Bagi umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), hari Sabtu bukan sekadar akhir pekan, melainkan fokus utama ibadah mingguan. Keyakinan ini berakar kuat pada Landasan Teologis yang kaya dan mendalam, yang menghubungkan Sabat dengan penciptaan, hukum moral Allah, dan keselamatan dalam Kristus. Memahami mengapa GMAHK secara konsisten memegang hari ketujuh (Sabtu) sebagai hari istirahat dan penyembahan memerlukan eksplorasi kembali pada teks-teks Alkitabiah dan sejarah kekristenan awal. Landasan Teologis ini menjadi pilar identitas GMAHK, membedakannya dalam praktik ibadah dan penafsiran eskatologis. Dengan mempelajari secara cermat, kita dapat Unfoil the Truth di balik praktik keagamaan yang unik ini.
Sabat sebagai Monumen Penciptaan
Landasan Teologis utama Sabat adalah perannya sebagai monumen abadi atas Penciptaan. Dalam Kitab Kejadian, pasal 2 ayat 2-3, disebutkan bahwa setelah enam hari bekerja menciptakan alam semesta, Allah beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya.
“Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”
Istirahat ini bukan karena Allah lelah, melainkan untuk menetapkan suatu pola waktu yang kudus, yang berfungsi sebagai peringatan mingguan bahwa Dialah Pencipta. Bagi GMAHK, Sabat adalah tanda perjanjian kekal yang menunjuk kembali ke Eden dan ke depan menuju bumi yang diperbarui. Perintah Sabat, yang dimasukkan sebagai Hukum Keempat dalam Sepuluh Hukum (Keluaran 20:8-11), berfungsi untuk mengikat umat manusia pada Pencipta mereka. Penekanan pada hari Sabtu sebagai hari ketujuh adalah upaya untuk mempertahankan kesucian dan makna historis hari yang ditetapkan oleh Allah sendiri.
Sabat dalam Hukum Moral Allah
Sabat bukan hanya peraturan seremonial yang berlalu; ia adalah bagian integral dari Hukum Moral Allah yang tercatat dalam loh batu. GMAHK meyakini bahwa, karena Sepuluh Hukum adalah refleksi karakter Allah yang kekal, maka Hukum Keempat, termasuk di dalamnya, juga bersifat kekal.
-
Konsistensi Hukum: Jika sembilan hukum lainnya (seperti larangan mencuri atau membunuh) masih berlaku secara universal, maka hukum yang keempat—mengingat hari Sabat—juga harus tetap berlaku.
-
Perjanjian Baru: Yesus Kristus sendiri menyatakan, “Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). GMAHK menafsirkan bahwa Kristus menggenapi hukum dalam makna, bukan menghapusnya. Kristus, sebagai The Master Crafter dari rencana keselamatan, mengajarkan cara memelihara Sabat dengan benar—menggunakan hari itu untuk berbuat baik dan penyembahan yang berpusat pada hubungan, bukan hanya ritual kosong.
Perpindahan Hari Ibadah dalam Sejarah
Pengalihan ibadah dari hari Sabtu ke hari Minggu (Hari Matahari) terjadi secara bertahap dalam sejarah gereja awal, sebagian besar karena faktor politik dan kultural, bukan karena perubahan doktrinal yang diatur Alkitab.
-
Pengaruh Romawi: Keputusan Konsili Laodikia (sekitar tahun 364 M) dan dekret Kaisar Konstantinus pada 7 Maret 321 M yang menetapkan Hari Matahari (Minggu) sebagai hari istirahat sipil, menjadi titik balik signifikan. Dekret Konstantinus tersebut berbunyi: “Pada hari Matahari yang terhormat, biarkan para hakim dan orang-orang yang tinggal di kota-kota beristirahat, dan biarkan semua bengkel ditutup.” Keputusan ini memadukan praktik kekristenan dengan tradisi pemujaan matahari Romawi, lambat laun menggeser fokus ibadah.
-
Peran Kunci Sola Scriptura: GMAHK, yang muncul pada abad ke-19, berdasarkan prinsip Sola Scriptura (Alkitab saja), meninjau kembali otoritas perpindahan hari ini. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun ayat Perjanjian Baru yang secara eksplisit atau implisit mengubah hari Sabat dari hari ketujuh (Sabtu) ke hari pertama (Minggu). Oleh karena itu, bagi GMAHK, memelihara Sabat hari ketujuh adalah tindakan ketaatan langsung kepada perintah Alkitabiah, membedakan praktik mereka dari tradisi gerejawi yang kemudian berkembang.
Sabat sebagai Tanda Identitas dan Keselamatan
Pada akhirnya, bagi GMAHK, pemeliharaan Sabat hari ketujuh adalah tanda yang mengikat umat percaya pada Allah Pencipta dan Penebus. Sabat bukan sekadar istirahat fisik; ia adalah Nexus Point mingguan untuk pertumbuhan rohani dan Connecting Generations dalam ibadah. Hari Sabat adalah tanda pengudusan (Keluaran 31:13) yang menunjukkan kuasa Allah untuk menjadikan umat-Nya kudus. Hari Sabtu, dari waktu matahari terbenam pada hari Jumat hingga matahari terbenam pada hari Sabtu, adalah saat yang dikuduskan untuk persekutuan dengan Allah, studi Alkitab, dan pelayanan kasih, mempersiapkan umat-Nya untuk kedatangan Kristus kedua kali. Praktik ini secara keseluruhan adalah ekspresi dari Landasan Teologis yang tak tergoyahkan.
